Mengisi Waktu Luang Sebagai Seorang Software Engineer

Kantor Traveloka di saat jam pulang kerja. Aku sedang menentukan apa yang akan kulakukan sehabis ini.
Foto diambil pada 4 Desember 2025, 18:58 WIB.
Kantor Traveloka di saat jam pulang kerja. Aku sedang menentukan apa yang akan kulakukan sehabis ini. Foto diambil pada 4 Desember 2025, 18:58 WIB.
 
Disaat blog ini ditulis, aku sudah memiliki 5 tahun pengalaman sebagai software engineer.
Belum cukup lama. Tapi sudah tidak bisa dibilang pemula lagi.
 
Salah satu privilege yang aku miliki adalah ternyata aku punya banyak waktu luang :)
Tentu saja ini patut disyukuri, karena aku bisa mengisinya dengan berbagai kegiatan produktif. Namun pada akhirnya yang paling menggoda tentu saja malas-malasan.
 
Tapi menurutku sayang sekali waktuku dengan hal sia-sia seperti itu. Aku ingin mengisinya dengan hal-hal produktif, sekecil apa pun itu.
Dan aku akan membahas hal apa yang dapat kulakukan sebagai software engineer untuk mengisi waktu luang itu.
 

 

1. Mengerjakan proyek berbayar

Contoh: mencari peluang di Upwork, mengontak boss di tempat lama apa ada proyek, mendaftar menjadi talent pool di agensi misalnya di Labtek Indie (cukup terkenal di kalangan mahasiswa almamaterku), dan mencari bounty misalnya di issue Gumroad.
Upwork.com, salah satu situs terbesar di dunia untuk mencari proyek berbayar yang persaingannya ketat. Bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 27 Februari 2026.
Upwork.com, salah satu situs terbesar di dunia untuk mencari proyek berbayar yang persaingannya ketat. Bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 27 Februari 2026.
Ini adalah kegiatan yang cocok diisi buat kamu yang:
  1. Masih memiliki waktu luang lumayan di luar jam kerja
  1. Ingin mendapat pemasukan tambahan
  1. Ingin mencoba tech stack lain di luar tempat kerja
  1. Ingin menambah koneksi baru
 
Aku sudah mengerjakan proyek berbayar sedari mahasiswa. Aku bisa dapat proyek berbayar saat itu karena memang sudah ada reputasi saat kuliah dan juga aktif mencari sendiri di Facebook.
 
Menurutku kalau masih pemula, misalnya kamu masih seorang mahasiswa yang ingin mendapat pengalaman mengerjakan proyek berbayar pertama kali: ikut teman yang lebih berpengalaman, jangan mencoba mencari sendiri.
Karena dengan ada teman yang lebih berpengalaman, mereka sudah lebih tahu proyek mana yang akan bermasalah sehingga bisa diantisipasi. Dan nanti dalam pengerjaan lebih mudah untuk diselesaikan karena bisa dikerjakan bareng.
Karena seringkali proyek itu bisa bermasalah. Bisa saja mereka tidak membayar jasa kita. Bisa saja partner BE developer dari mereka kerjanya tidak kompeten, sehingga kita sebagai FE developer yang jadi bulan-bulanan. Bisa saja ada perubahan skop kerja, yang mana harusnya kompensasi juga disesuaikan. Agak sulit kalau yang belum berpengalaman mencoba menjadi freelancer independen.
 
Semasa kerja, aku tidak aktif mencari sendiri lagi. Tapi aku kadang ditawari dari teman yang memang punya software house. Aku juga diajak oleh bos dari tempat kerja lamaku karena dia suka dengan hasil kerjaku. Pelajaran yang kudapat adalah berikan yang terbaik di tempat kerja sekarang, karena bisa jadi mereka yang bekerja denganmu sekarang akan menawarkan kesempatan di masa depan.

2. Membuat proyek pribadi

Contoh: membuat bot saham untuk persiapan apply perusahaan trading, mengikuti hackathon, berkontribusi di proyek open source.
Ini cocok buat kamu yang:
  1. Masih merintis karir sehingga belum mendapatkan tawaran freelance
  1. Tidak menemukan proyek berbayar yang cocok
  1. Merasa memiliki ide yang dapat dijadikan bisnis nantinya
  1. Lebih ingin fleksibel dalam waktu pengerjaan dan apa yang akan dikerjakan
 
Ini juga hal yang kulakukan sedari mahasiswa. Aku membuat game https://overhang.ilhamwahabi.com/ untuk persiapan mendaftar magang sebagai Frontend Engineer di Dekoruma. Aku juga membuat berbagai proyek lain untuk kemudian kubagikan di sosial media untuk mendapat exposure.
Menurutku proyek pribadi merupakan hal krusial terutama bagi junior developer, karena saat masih minim pengalaman, proyek pribadi bisa mengisi kekosongan di CV dan menunjukkan pada recruiter bahwa pengalaman kita tidak sesedikit itu.
Tapi kalau kamu sudah bekerja selama beberapa tahun sepertiku, proyek pribadi tidak sekrusial itu lagi. Karena sudah ada pengalaman dari proyek yang dikerjakan kantor untuk dijadikan portfolio.
 
Kalau proyek pribadinya bisa dimonetisasi menurutku itu akan lebih bagus lagi, karena bisa jadi sumber pendapatan lain atau kalau memang potensial mungkin bisa difokuskan sehingga jadi sumber pendapatan utama.
Kalaupun ternyata nanti tidak ingin dilanjutkan lagi, bisa dijual proyeknya di https://acquire.com/.
Situs acquire.com, tempat entrepreneur bisa menjual bisnis daring mereka. Ini bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 23 Februari 2026.
Situs acquire.com, tempat entrepreneur bisa menjual bisnis daring mereka. Ini bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 23 Februari 2026.
Hal ini juga menjadi nilai plus di mata hiring manager nantinya, karena itu memperlihatkan kalau kalian bukan cuma bisa sekadar membangun produk, tapi juga bisa menjual produk itu.
 
Aku dulu juga beberapa kali ikut hackathon semasa kuliah, tapi karena secara tidak langsung mengharuskan begadang aku sudah menghindari hal seperti itu di umur sekarang. Alih-alih sekarang bisa ikut hackathon online saja. Dan di era AI sekarang, menurutku ide yang baik akan lebih krusial karena implementasinya sudah dibantu oleh kakas seperti Claude Code.
 
Untuk proyek open source aku juga beberapa kali berkontribusi sewaktu masih mahasiwa, aku pernah ikut Octoberfest dan mendapat kiriman T-shirt dan sticker di tahun 2019. Bahkan di CV aku dengan pedenya waktu itu menulis “Open source enthusiast”.
Kaos dan sticker Hacktoberfest yang kudapat setelah membuat kontribusi berupa 5 pull request pada proyek open source di tahun 2019.
Kaos dan sticker Hacktoberfest yang kudapat setelah membuat kontribusi berupa 5 pull request pada proyek open source di tahun 2019.

3. Mengajar

Contoh: membuat course, menyediakan simulasi interview berbayar, mengadakan sesi 1 on 1.
Ini cocok buat kamu yang:
  1. Suka tampil di depan umum
  1. Memiliki ilmu yang bisa dibagikan
  1. Sedang mencari sosok potensial yang bisa dijadikan relasi
 
Kulihat banyak software engineer Indonesia yang suka mengajarkan ilmunya misalnya ada yang membuat course Udemy dan ada yang menyediakan mentoring di https://adplist.org/.
Situs https://adplist.org/, aku menampilkan orang Indonesia yang bisa dijadikan mentor untuk disiplin front-end. Bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 27 Februari 2026.
Situs https://adplist.org/, aku menampilkan orang Indonesia yang bisa dijadikan mentor untuk disiplin front-end. Bukan endorse. Tangkapan layar diambil pada 27 Februari 2026.
Menurutku ini hal yang bagus, karena sayangnya memang tidak semua software engineer punya kesempatan yang sama. Hal ini dapat membantu mereka yang terbatasi oleh keadaan untuk tetap mendapat akses pada ilmu yang mereka butuhkan.
Aku percaya pendidikan adalah cara untuk mengubah keadaan seseorang. Dengan semakin banyaknya software engineer Indonesia yang membagikan ilmunya, aku percaya ekosistem IT di Indonesia akan menjadi lebih baik.
 
Aku sendiri dulu suka menjadi pembicara seputar web development. Aku pernah membahas seputar web performance, SEO, dan accessibility. Kedepannya aku ingin mencoba menjadi pembicara lagi dan membawakan topik yang lebih menarik.

4. Membuat konten

Contohnya: menulis blog, membuat video TikTok, membagikan hal yang dipelajari di Twitter/X.
Ini cocok buat kamu yang:
  1. Ingin menulis apa yang baru dipelajari agar tidak cepat pudar
  1. Mencari hal untuk dicantumkan ke CV sebagai salah satu pengalaman ata keunggulan diri
  1. Menargetkan pendapatan dari sponsor, endorse, atau adsense
  1. Menjadikan konten ini sebagai funnel untuk produk lainnya, misalnya menyelipkan link kursus berbayar di akhir tulisan blog yang ditulis
 
Menurutku membuat konten adalah cara bagus untuk mendokumentasikan hal apa yang kita pelajari. Seringkali aku mengerjakan hal menarik di tempat kerja, tapi karena tidak pernah kutulis akhirnya beberapa tahun kemudian lupa. Padahal itu bisa dicantumkan di CV.
 
Semakin sering kita membagikan apa yang kita pelajari, hal itu juga akan menarik perhatian orang yang memiliki minat yang sama atau mengerjakan hal yang sama. Yang mana hal ini akan menjadi nilai tambah karena memperluas jejaring dan memperluas banyak potensi kesempatan menarik. Contohnya kalau kalian sering menulis tentang AI tools di X/Twitter, mungkin akan ada perusahaan AI yang tertarik mensponsori kalian untuk menulis tentang produk mereka.
 
Aku sendiri suka menulis blog (seperti blog ini) dan berkicau di X/Twitter kalau sedang senggang dan kalau ada hal menarik yang bisa dibagikan. Kedepannya aku ingin lebih sering lagi menulis blog untuk hal yang cukup panjang dan membagikan di X/Twitter untuk hal yang singkat.

5. Latihan interview

Contoh: latihan LeetCode, belajar HelloInterview, melakukan simulasi interview dengan teman.
Situs leetcode.com, dimana aku biasanya latihan DSA untuk persiapan interview atau sekadar mengisi waktu. Tangkapan layar diambil pada 23 Februari 2026.
Situs leetcode.com, dimana aku biasanya latihan DSA untuk persiapan interview atau sekadar mengisi waktu. Tangkapan layar diambil pada 23 Februari 2026.
Dan ini adalah pilihan untuk kamu yang:
  1. Ingin pindah ke perusahaan yang lebih baik
  1. Ingin mendapat kenaikan gaji di tempat sekarang, sehingga perusahaan akan menaikkan gajimu jika kamu “mengancam” kamu sudah diterima di tempat lain
  1. Atau sudah betah dengan kondisi sekarang, tapi tetap latihan untuk jaga-jaga semisal terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya perusahaan bangkrut atau kena layoff
 
Menurutku bekerja di perusahaan bagus adalah kunci dari semua hal yang kusebutkan disini.
Dengan bekerja di perusahaan bagus: kalian akan mudah mendapat proyek berbayar, exposure pada proyek pribadi kalian akan lebih tinggi, kamu dianggap sudah punya kredibilitas jika kamu mengajarkan sesuatu, akan lebih banyak ide konten karena learning di perusahaan besar lebih banyak, dan semakin besar peluangmu untuk bekerja di perusahaan yang lebih besar lagi.
 
Aku sendiri walaupun sudah nyaman di tempat sekarang tetap rutin latihan interview. Karena:
💡
Keberuntungan = kesempatan + persiapan
Kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, apakah ternyata tiba-tiba ada recruiter dari perusahaan impian yang menghampiri? Atau ternyata aku tiba-tiba kena layoff? Apapun yang terjadi, aku sudah lebih siap.
Selain itu belajar persiapan interview secara tidak langsung juga meningkatkan skill teknis dan non-teknisku.
Karena aku latihan interview, aku jadi tahu misalnya apa itu event loop di JavaScript.
Karena aku latihan interview, aku jadi belajar bagaimana cara melakukan story telling yang baik.
Karena aku latihan interview, aku jadi punya konten untuk dibagikan.
Sekali mendayung, 5 pulau terlampaui.
 

 
Bagaimana? Apa yang sudah kamu coba? Dan apa yang sesuai dengan minatmu? Atau masih memilih untuk rebahan saja?
Kalau kalian masih tergoda untuk malas-malasan, coba cek caraku untuk menjadi produktif disini https://www.ilhamwahabi.com/blog/cara-produktif.
 
Aku sendiri sudah mencoba semuanya dan lebih merasa cocok dengan (2) Membuat proyek pribadi, (4) Membuat konten, dan (5) Latihan interview.
Aku pernah menulis kenapa aku sudah tidak cocok lagi dengan (1) Mengerjakan proyek berbayar. Kalau tertarik, bisa baca disini: https://www.ilhamwahabi.com/blog/no-to-freelance.
Kalau untuk nomor 3, aku merasa masih perlu meningkatkan ilmu dan kredibilitas untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi, selain itu aku juga merasa kemampuan komunikasiku perlu ditingkatkan lagi.
 
Sebagai penutup: menurutku tidak ada yang salah dengan apa yang ingin kita lakukan dalam hidup ini. Kalau misalnya sudah puas dengan keadaan sekarang sehingga mau rebahan atau main game saja juga tidak apa-apa. Tapi aku sendiri belum puas dengan keadaanku sekarang dan aku juga tidak mau hanya bermalas-malasan, karena menurutku hidup yang baik adalah hidup yang bersungguh-sungguh.